COVID-19: Bagaimana Faktor Non Finansial Mampu Mengganggu Perekonomian

Pada 11 Maret 2020, COVID-19 dinyatakan oleh WHO (World Health Organization) sebagai sebuah pandemi, karena penyebaran virus yang sudah mencapai 114 negara. Pemerintah memberlakukan kebijakan Stay at Home dan Social Distancing dalam rangka mencegah penyebaran virus ini. Kebijakan ini tentu membawa dampak bagi banyak industri, seperti industri penerbangan, manufaktur dan kesehatan.

Virus COVID-19 diprediksi akan mengakibatkan kerugian sebesar 820 triliun USD untuk industri penerbangan (CNBC, 2020). Hal ini disebabkan adanya kebijakan dari pemerintah beberapa negara untuk memberlakukan travel ban yang berakibat pada menurunnya permintaan terhadap segala bentuk aktivitas penerbangan. Masyarakat pun melakukan pembatalan tiket penerbangan (Mass Cancellation) dalam rangka mencegah terinfeksi dan penyebaran virus COVID-19. Sehingga, beberapa perusahaan penerbangan harus dengan terpaksa menutup kegiatan operasi.

Dengan adanya virus COVID-19 ini, pertumbuhan sektor retail di China mengalami penurunan yang sangat tajam. Sebesar 29% dari produk yang diekspor China memiliki bahan baku yang diimpor dari Indonesia Sehingga, penurunan sektor retail di China dapat menyebabkan menurunnya permintaan terhadap bahan baku tersebut yang dapat mengakibatkan penurunan harga dan terganggunya aktivitas ekspor Indonesia. Dampak negatif penurunan harga tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, namun juga Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat di dalamnya yang dapat berujung pada menurunnya daya beli. Dengan banyaknya barang modal yang diimpor dari China, penurunan sektor retail ini pun mengganggu supply chain perusahaan. Barang modal bisa saja tidak tersedia sehingga proses produksi tidak dapat berjalan.

            Salah satu perusahaan yang mengalami gangguan supply chain adalah perusahaan farmasi. Sekitar 60% bahan baku pembuatan obat dunia berasal dari China. COVID-19 mengakibatkan tutupnya operasi perusahaan, sehingga tidak mampu untuk memberikan supply yang dibutuhkan. Beberapa perusahaan yang tidak memiliki stok bahan baku harus mengalami stock out atau ketidaktersediaan barang. Beberapa perusahaan yang masih memiliki stok menolak untuk menjual bahan tersebut karena rasa takut akan stock out. Selain kerugian secara ekonomis, ketidaktersediaan obat mengakibatkan tingginya angka kematian. Perusahaan pemeringkat Moody’s menurunkan peringkat dari stable menjadi negatif untuk industri kesehatan publik Moody’s juga memperkirakan untuk sektor kesehatan akan menerima arus kas yang lebih sedikit di tahun 2020 dibandingkan dengan tahun 2019.

Adanya pandemi COVID-19 yang dinyatakan oleh WHO memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap industri penerbangan, manufaktur dan kesehatan yang dapat menyebabkan beberapa proses dalam industri yang tidak dapat berjalan sehingga dapat menyebabkan kerugian. Kerugian tersebut menurunkan pertumbuhan negara dan menyulitkan keadaan masyarakat. Akibat ketidakpastian dalam situasi yang dihadapi, mendorong berbagai hal menjadi sulit untuk diprediksi. Diharapkan pemerintah dapat lebih siaga untuk menghadapi Pandemic Covid-19 dalam menerapkan berbagai kebijakan dan pengalokasian anggaran demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, perlu diketahui bahwa semua berasal dari diri kita itu sendiri untuk mendukung program serta kebijakan pemerintah untuk meredakan Covid-19. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan social distancing dan work from home.

JT

Bibliography

Business travel sector to lose $820 billion in revenue on coronavirus hit, industry group says. (2020, March 11). Retrieved from CNBC: https://www.cnbc.com/2020/03/11/business-travel-sector-to-lose-820-billion-in-revenue-on-coronavirus-hit-industry-group.html

Ekonom UI : Memahami Kaitan Perekonomian dan Virus Corona. (2020, March 10). Retrieved from Universitas Indonesia: https://www.ui.ac.id/ekonom-ui-memahami-kaitan-perekonomian-dan-virus-corona/

Ozili, P., & Arun, T. (2020). Spillover of COVID-19: impact on the Global Economy. SSRN Electronic Journal.