Tekanan Ketaatan (Obedience Pressure) Dalam Audit

Dalam melaksanakan proses audit tidak jarang auditor akan mengalami tekanan kerja, seperti adanya tekanan ketaatan dari atasan ataupun entitas yang diperiksanya. Auditor akan merasa berada dalam tekanan ketaatan pada saat mendapat perintah dari atasan ataupun permintaan entitas untuk melakukan apa yang mereka inginkan yang mungkin bertentangan dengan standar dan etika profesi auditor. Dalam menjalankan tugasnya, auditor harus mematuhi dan berpegang teguh pada standar auditing dan etika profesi. Namun tidak jarang muncul potensi konflik ketika auditor berusaha untuk memenuhi tanggung jawab profesionalnya, tetapi di sisi lain dituntut pula untuk memenuhi perintah dari atasan maupun entitas yang diperiksa. Tekanan tersebut akan mempengaruhi auditor dalam melaksanakan tugasnya, salah satunya adalah dalam audit judgment. Dengan kata lain, auditor yang merasa berada dibawah tekanan akan menunjukkan perilaku dysfunctional dengan menyetujui melakukan kesalahan ataupun pelanggaran etika.Situasi konflik inilah yang membuat auditor mengalami kebimbangan dalam mempertahankan independensinya.

Teori ketaatan menyatakan individu yang mempunyai kekuasaan merupakan suatu sumber yang dapat mempengaruhi perilaku orang lain dengan perintah yang diberikannya. Hal ini disebabkan karena keberadaan kekuasaan atau otoritas yang merupakan bentuk dari legitimate power.Semakin tinggi tekanan yang dihadapi oleh auditor maka judgment yang diambil oleh auditor cenderung kurang tepat sehingga dapat mempengaruhi auditor dalam membuat suatu judgment.

Tekanan yang diterima oleh auditor tidak hanya berupa tekanan ketaatan. Tekanan lainnya dapat berupa tekanan anggaran waktu. Auditor sering kali dihadapkan pada keterbatasan anggaran waktu audit. Adanya tekanan anggaran waktu dapat mempengaruhi kinerja seseorang. Auditor sering kali bekerja dalam keterbatasan waktu, sehingga dapat mempengaruhi kinerjanya untuk memperoleh hasil audit yang berkualitas. Tekanan anggaran waktu berkaitan dengan seberapa banyak waktu yang diberikan kepada auditor untuk menyelesaikan tugas-tugas seorang auditor. Sikap masing-masing auditor dalam menyikapi adanya tekanan waktu berbeda-beda. Tekanan waktu yang dialami seorang auditor dapat memberikan dua dampak yang berbeda bagi kinerja auditor, yaitu dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya adalah dimana auditor terpacu untuk melakukan efisiensi penggunaan waktu dalam proses pengauditannya sehingga menimbulkan kinerja auditor yang lebih baik. Namun dampak negatifnya memungkinkan dapat berperilaku menyimpang. Perilaku menyimpang auditor berdampak serius bagi kualitas audit, etika dan kesejahteraan audit. Disini auditor akan melakukan hal yang menyimpang untuk dapat menyelesaikan tugas audit sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

BLH