Akuntansi, Digitalisasi dan Revolusi Industri 4.0

Dalam era revolusi industri 4.0, melakukan pekerjaan akuntansi menjadi sangat mudah dengan penggunaan software akuntansi. Dari survei yang dilakukan oleh Bangladesh Association of Software and Information Services on accounting software, telah ditemukan bahwa 47% dari industri Information Technology (IT) merupakan penggunaan software akuntansi.

Tentu nya tidak cukup bagi para akuntan untuk hanya memiliki kemampuan akademis. Kemampuan akademis yang didapat dari universitas, antara lain: memahami standar, peraturan dan prinsip akuntansi, mengerti siklus akuntansi mulai dari penjurnalan hingga membuat laporan keuangan, dan berbagai ilmu lain yang berkaitan dengan ilmu akuntansi. Tentu hal tersebut dimiliki oleh kebanyakan setiap akuntan yang telah lulus dan bergelar sarjana ekonomi.

Menurut pengalaman kami, banyak mahasiswa – mahasiswa yang berasal dari jurusan information system dan information technology yang mengatakan kepada kami bahwa di masa depan, profesi akuntan akan digantikan oleh sistem kecerdasan buatan (AI) yang mereka buat untuk menggantikan fungsi akuntan. Dari cerita tersebut, banyak hal positif dari perkembangan dunia teknologi yang memudahkan transaksi bisnis dan mengurangi resiko kesalahan. Akan tetapi, para akuntan akan kesulitan dalam mencari pekerjaan dan kalah bersaing apabila yang mereka miliki hanya kemampuan akademis. Diperlukan kemampuan lain selain akademis untuk dapat menambah value dari seorang akuntan.

Salah satu yang dapat menambah value dari seorang akuntan adalah memahami information system. Ilmu information system mempelajari proses bisnis dan cara membuat teknologi yang dapat mendukung proses bisnis tersebut. Diantaranya adalah apps development, system development, dan software development. Bagaimana hal ini dapat menambah value dari seorang akuntan ? Akuntan yang menguasai information system dapat menciptakan sebuah sistem untuk memenuhi kebutuhan akuntansi, yang bertujuan untuk menampung transaksi bisnis, memproses nya dan menghasilkan output yang dapat diandalkan. Kemungkinan terjadinya fraud atau penyelewengan, terutama dalam hal – hal yang tidak sesuai dengan prinsip akuntansi sangat kecil bahkan tidak ada celah sama sekali. Dengan begitu kepercayaan publik akan meningkat pada output, yaitu laporan keuangan yang dihasilkan oleh perusahaan.

Namun tentunya bukan hal mudah bagi seorang akuntan untuk mengerti information system, diperlukan pendidikan lebih lanjut terkait dengan ilmu information system. Perpaduan dari ilmu akuntansi dan information system dapat menjadi sebuah kelebihan dan keunikan bagi seorang akuntan pada persaingan era revolusi industri 4.0 yang semakin ketat.

Selain memahami information system, akuntan juga perlu untuk menganalisa dan mengolah big data yang menyimpan banyak informasi, karena tidak hanya keterampilan dalam menyusun laporan keuangan saja yang dibutuhkan, namun harus bisa merancang dan menganalisis data keuangan dan non keuangan terlebih dalam bentuk digital. Big data merujuk pada kumpulan data yang memiliki volume masif berisi data yang terstruktur dan tidak terstruktur yang sangat besar dan beragam, sehingga menjadi sulit untuk diproses dan ditangani melalui database manual.

Ada beberapa karakteristik dari big data yang harus dipahami, biasanya disebut 4Vs yang terdiri dari: Volume, Velocity, Variety, dan Veracity. Volume dari data mengacu pada ukuran dataset yang perlu dianalisis dan diproses. Velocity mengacu pada seberapa cepat data dihasilkan. Variety adalah cakupan data yang berasal dari berbagai sumber, variasi dalam tipe data membutuhkan kemampuan pemrosesan yang berbeda. Veracity adalah kualitas dari data yang akan dianalisis. Seorang akuntan harus memperhatikan hal-hal tersebut saat akan menganalisis big data, 4Vs akan mempengaruhi kualitas dari output report yang akan dihasilkan oleh akuntan.

Yang terakhir, akuntan milenial akan mempunyai value lebih jika memahami akuntansi forensik. Masih marak nya kasus korupsi di era digital ini membuat kami berpikir bahwa sistem digital pun masih bisa dimanipulasi oleh manusia. Sehingga dibutuhkan investigator yang mempunyai background akuntan dan memahami forensik untuk memecahkan kasus-kasus korupsi.  Akuntansi forensik adalah penerapan disiplin akuntansi dalam arti luas, termasuk auditing pada masalah hukum untuk penyelesaian hukum di dalam atau di luar pengadilan, di sektor publik maupun privat. Akuntansi forensik merupakan praktik khusus bidang akuntansi yang menggambarkan keterlibatan yang dihasilkan dari perselisihan aktual atau yang diantisipasi atau litigasi. Pendeteksian dan pencegahan kecurangan dalam sektor publik maupun swasta selalu menjadi masalah untuk pihak penegak hukum di seluruh dunia termasuk Indonesia. Akuntansi forensik bisa dikatakan belum cukup familiar di telinga para akuntan. Seorang auditor BPK, Hendratna Mutaqin, ia mengatakan bahwa zaman sekarang, akuntansi tidak hanya sekedar pencatatan dan pembuatan laporan keuangan, tetapi juga memahami akuntansi forensik untuk memecahkan permasalahan hukum yang berhubungan dengan keuangan, terutama kasus yang menimbulkan kerugian. Dalam melakukan pekerjaannya, seorang akuntan harus memahami penggunaan berbagai macam teknologi forensik, seperti XRY Mobile Forensics.

Akuntan forensik digunakan di sektor publik maupun privat, akan tetapi penggunaan akuntan forensik di sektor publik lebih menonjol dibandingkan di sektor privat. Hal tersebut disebabkan karena penyelesaian sengketa di sektor privat cenderung diselesaikan di luar pengadilan. Akuntan forensik memiliki ciri-ciri yang sama dengan akuntan dan auditor, yaitu harus tunduk pada kode etik profesinya. Sikap independen, objektif dan skeptis juga harus dimiliki oleh akuntan forensik. Karakteristik yang harus dimiliki oleh akuntan forensik antara lain, kreatif, rasa ingin tahu, tidak menyerah, akal sehat, business sense, dan percaya diri. Keenam hal tersebut adalah karakteristik yang sebagian besar dimiliki oleh para generasi milenial, sehingga akuntansi forensik memang merupakan pekerjaan yang cocok untuk para akuntan milenial.

Selain memiliki hard skill seperti information system, big data analytics, dan akuntansi forensik, seorang akuntan muda khususnya mahasiswa, harus mempunyai soft skills untuk menunjang pengetahuan akademis yang dimiliki. Soft skill yang harus dimiliki seperti teamwork, leadership, presentation skill, communication skill, dan decision-making. Karena hal – hal inilah yang membuat manusia berbeda dengan AI. Soft skill tersebut umumnya di asah ketika masih belajar di perguruan tinggi. Sehingga, ketika para mahasiswa terutama akuntan lulus dari perguruan tinggi, mereka siap berkompetisi dan menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 dengan hard skill dan soft skill yang memadai.

BLH

Image Source: Google Image