Accountant VS Artificial Intelligence

Akuntansi adalah sistem informasi yang mengukur aktivitas bisnis, memproses data menjadi sebuah laporan, dan mengkomunikasikan hasilnya kepada para pengambil keputusan yang dilakukan oleh akuntan. Seiring berkembangnya perusahaan, data yang dikelola pun juga semakin banyak. Berbagai proses dari  akuntansi  pun  sudah  tidak  dikerjakan  secara  manual  mengingat  proses  tersebut   sangat memakan waktu, dan membutuhkan tenaga kerja manusia yang banyak, sehingga menyebabkan berkurangnya efektivitas serta efisiensi waktu sehingga Akuntan seringkali melakukan error tanpa disengaja (Human Error) atau kecurangan yang disengaja (Fraud) untuk mendapatkan keuntungan individu serta perusahaan.

Oleh karena itu teknologi hadir untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dengan mengganti kegiatan manual dengan teknologi. Dengan begitu perusahaan dapat mengurangi sumber daya manusia dan menghemat biaya. Apalagi dengan hadirnya AI, apabila dioperasikan dalam perusahaan dapat membantu proses bisnis berjalan lebih cepat, akurat dan efisien. Lantas apakah pada bidang akuntansi, profesi akuntan akan digantikan oleh teknologi juga?

1. Value yang Harus Dimiliki oleh Seorang Akuntan

Untuk menetapkan strategi yang tepat agar dapat berkompetisi dalam dunia yang serba digital, dapat dimulai dengan menganalisa kelebihan-kelebihan manusia yang tidak dimiliki oleh AI, seperti:

A.  Kreativitas

Salah satu aspek yang tidak dimiliki oleh AI adalah kreativitas. Proses pembelajaran Machine Learning / AI dimulai dengan programmer menginput ribuan jenis sampel, dari sampel tersebut lah mesin akan belajar. Sehingga hasil analisa Machine Learning cenderung lebih kaku, sementara dengan kreativitas dapat menghasilkan pemikiran yang “out of the box”.

B.  Kemampuan analitik dan analisis

Otak manusia didesain untuk dapat berpikir secara logis dan kompleks. Machine Learning mampu membantu untuk menyimpulkan output dari proses analitik dan analisis dengan lebih cepat dan efisien, tetapi tetap dibutuhkannya manusia untuk menganalisis hasilnya lebih jauh lagi dan menentukan keputusan tentang langkah apa yang harus perusahaan ambil.

C.  Unggul dalam bidangnya masing-masing

Kegiatan manual telah digantikan oleh mesin, maka dari itu kita sebagai Akuntan milenial harus memiliki ilmu dan pengertian yang dalam di bidang nya masing-masing. “Saya belajar bukan untuk lulus, tetapi untuk dimengerti” – B.J.Habibie. Mencontoh teladan dari mantan presiden ke-3 Indonesia, khususnya para calon-calon akuntan yang masih menempuh studinya, perlu merubah pola pikir mereka agar belajar untuk benar-benar menguasai bidang tersebut, bukan hanya sekedar untuk lulus ataupun nilai bagus. Pengambilan sertifikasi dalam bidang akuntansi juga akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi tiap individu.

D. Teknologi

Hidup di jaman yang telah memasuki revolusi industri 4.0 ini, setiap akuntan harus bisa menggunakan dan mengerti teknologi. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa akuntansi dan teknologi sudah menjadi satu bagian sehingga mau tidak mau Akuntan harus memiliki kemampuan mengoperasikan teknologi perangkat lunak. Bagaimana Teknologi dan Akuntan Dapat Berkolaborasi dan Berjalan Bersama?

Banyak rumor yang beredar bahwa di masa depan akuntansi akan digantikan oleh robot sehingga para akuntan akan terancam kehilangan pekerjaannya. Menurut sudut pandang opini dari kelompok kami, posisi akuntan tidak akan sepenuhnya tergeser oleh teknologi melainkan lebih tepatnya akan hadir teknologi berupa software akuntansi yang akan mempermudah pekerjaan para akuntan, sehingga proses semua dilakukan by system dan tidak manual dan akan menghasilkan output yang lebih akurat, cepat, dan less workforce. Tentu saja dengan hadirnya teknologi tersebut akan mengurangi kebutuhan sumber daya manusia. Tetapi timbulnya teknologi tersebut juga membuka profesi-profesi baru yang membutuhkan kedua aspek, yaitu teknologi dan akuntansi bagi para akuntan.

Setelah mengetahui berbagai value yang perlu dimiliki oleh para calon akuntan generasi milenial, berikut adalah wawasan mengenai peluang profesi bagi para calon akuntan milenial untuk dapat berkolaborasi dengan teknologi. Profesi yang dapat diambil oleh Calon Akuntan generasi Milenial berupa:

Forensic Accounting: Profesi ini dijalani dengan menggabungkan tenaga akuntan dengan teknologi digital. Akuntan dapat melacak bukti-bukti kejadian yang melanggar aturan/standar dengan menyertakan bukti secara digital. Cara melacak dapat dilakukan dalam waktu singkat dan efektif.

Environmental Accounting: akuntan fokus untuk menjaga sustainability perusahaan bagaimana keberlanjutan perusahaan dapat dikembangkan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggabungkan AI, dengan menghitung biaya yang berhubungan dengan kesejahteraan stakeholder dan lingkungan sekitar. Akuntan dapat bekerja sama dengan IT untuk memprogram komputer agar mempermudah proses pengolahan data sehingga hasilnya dapat diprediksi oleh akuntan secara akurat mengenai bagaimana keberlanjutan perusahaan untuk beberapa tahun mendatang.

Auditor: Auditor dapat menggunakan AI untuk mempermudah mengolah data dalam jumlah besar (Big Data) dalam waktu singkat. Seluruh data akan diproses dan dianalisa dengan menggunakan Big Data Analytic untuk menemukan kejanggalan serta kecurangan. Dengan bantuan teknologi, auditor akan memverifikasi dengan memberikan opini serta mencegah terjadinya audit delay dalam menyelesaikan auditor’s independent report

BLH