Indonesia Diklaim Siap Memasuki Era Perbankan 3.0

3C Wireless Enterprise, perusahaan solusi keuangan dan M2M global asal Australia, menilai Indonesia sudah siap memasuki era Bank 3.0. Menurut perusahaan ini, teknologi jadi jembatan penting untuk menjembatani sistem kinerja bank menjangkau populasi masyarakat non-bank.

Perusahaan ini menilai potensi perbankan Indonesia masih sangat luas untuk digali dan membutuhkan teknologi yang dapat menjawab tantangan geografis serta tren dari konsumen yang semakin modern melalui penggunaan teknologi dan menuntut kecepatan serta kemudahan.

“Kami takjub melihat perkembangan konsumen dan berkembangnya teknologi keuangan di Indonesia yang secara pesat berkembang, dan kami melihat Indonesia sebagai negara yang siap memasuki era Bank 3.0,” kata Mark Gamon, Founder dan Managing Director dari 3C Wireless, melalui rilis keKompas.com,¬†Senin (29/8/2016).

Menurut dia, Inklusi keuangan tentu dapat dipercepat dengan peran fintech, di mana teknologi menjadi jembatan yang sangat penting diintegrasikan pada sistem kerja bank untuk menjangkau populasi masyarakat non-bank tersebut.

“Kami ingin membantu para bank di Indonesia dengan memperluas dan menumbuhkan jaringan ATM nirkabel di seluruh Indonesia dan menjadi bagian dari ekosistem yang berkontribusi secara penuh melalui solusi kami,” kata dia.

3C Wireless membawa solusi teknologinya di Indonesia sebagai game changer dalam membuat standard baru bagi ATM nirkabel (wireless) mengingat potensi Indonesia yang besar untuk menjangkau sebesar 62 persen masyarakat non-bank di Indonesia.

Sebagai bagian dari usaha untuk  upaya tersebut, 3C Wireless mendukung Indonesia Fintech Festival & Conference yang diadakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia) pada 29-30 Agustus 2016.

Ajang ini mengumpulkan regulator, berbagai pelaku industri di sektor finansial serta perusahaan-perusahaan startup fintech.

Saat ini, dengan potensi pasarnya yang besar, Indonesia masuk dalam tiga besar sasaran pasar 3C Wireless. Yakni setelah China dan India.

Sumber : bisniskeuangan.kompas.com