Di dalam perusahaan, tentu saja ada banyak divisi, yaitu divisi procurement, marketing, finance and accounting, HRD, produkisi, dan lainnya. Pada divisi produksi, hal yang disoroti adalah masalah target produksi yang harus terpenuhi. Tentu saja target yang harus dipenuhi adalah dalam bentuk kuantitas. Pada material flow cost accounting, kuantitas tersebut menjadi perhatian di dalam basis perhitungan akuntansi ini, sehingga, hanya basis kuantitaslah yang benar-benar dilihat, bukan basis dari biaya. Misalnya saja, perusahaan teh menggunakan input sebanyak 100kg pucuk daun teh untuk dikeringkan, diolah, dan kemudian dikemas dalam packaging masing-masing. Namun, setelah dikeringkan, daun teh menjadi rapuh, sehingga banyak teh yang menjadi bagian daun kecil. Dari 100kg teh, yang menjadi daun teh seduh sebanyak 85kg, 10kg merupakan potongan-potongan daun kecil yang hampir menjadi serbuk, dan 5kg merupakan penguapan air dari proses pengeringan daun. Potongan-potongan yang hampir menjadi sebuk ini dapat digunakan untuk memproduksi teh celup. Namun, jika memang lebih menguntungkan teh yang dijual secara daun daripada serbuk, maka perusahaan perlu mengambil keputusan terhadap proses pengeringan yang dilakukan oleh perusahaan agar daun teh yang dijual dapat lebih banyak dan biaya lebih sedikit.

 

SPH